Jakarta, 15 Oktober 2025 – Indonesia semakin memperlihatkan komitmennya untuk menjadi pemain utama di pasar karbon dunia. Melalui berbagai langkah strategis yang ditempuh, Indonesia ingin memanfaatkan potensi besar sektor energi hijau dan perdagangan karbon, dengan tujuan untuk tidak hanya sebagai pemain pasif, tetapi juga sebagai penggerak utama pasar yang berkembang pesat ini. Salah satu langkah besar yang dilakukan adalah melalui forum diskusi internasional, yang berlangsung di New York selama perhelatan New York Climate Week 2025.
Sign in dalam forum internasional ini sebagai bagian dari rangkaian strategis untuk menyoroti potensi pasar karbon Indonesia, khususnya dalam upaya mengatasi perubahan iklim global. Keberhasilan Indonesia dalam memanfaatkan pasar karbon ini akan menjadi modal besar dalam menghadapi tantangan iklim, sekaligus menarik perhatian para investor internasional untuk berinvestasi dalam proyek-proyek yang ramah lingkungan.
Arsjad menambahkan, “Saatnya Indonesia mengambil posisi lebih kuat sebagai pembuat kebijakan dan bukan hanya sebagai pemasok karbon. Kami ingin memastikan bahwa pasar karbon global tidak hanya menguntungkan sebagian pihak, tetapi juga adil dan inklusif bagi semua pihak yang terlibat.”
Indonesia, dengan kelebihan sumber daya alam yang melimpah, juga melihat adanya peluang besar dalam pengembangan ekonomi hijau. Dengan menggunakan standar global yang semakin terintegrasi dalam pasar karbon, Indonesia berpotensi untuk menjadi price-maker di kawasan Asia. Hal ini sejalan dengan inisiatif yang dilakukan oleh IBC dalam upaya membangun infrastruktur yang lebih kuat bagi perdagangan karbon di dalam negeri.
Indonesia Mendorong Investasi Hijau
Puncak dari rangkaian kegiatan ini adalah forum “Indonesia Carbon Market Executive Roundtable” yang diselenggarakan oleh IBC, yang melibatkan banyak pemimpin dunia, baik dari sektor pemerintah, industri, hingga lembaga internasional. Diskusi-diskusi yang berlangsung fokus pada kesiapan pasar Indonesia dalam menyediakan carbon credit yang berkualitas, serta penguatan konektivitas kebijakan yang mendukung stabilitas dan transparansi pasar karbon global.
Salah satu hasil yang signifikan adalah kolaborasi dengan berbagai organisasi internasional dan lembaga pembiayaan yang membuka peluang investasi hijau di Indonesia. Hal ini penting agar Indonesia dapat bersaing di pasar karbon global dengan memastikan proyek-proyek yang ada memiliki dampak positif yang signifikan terhadap lingkungan.
Fokus pada Ekonomi Sirkular dan Energi Hijau
Selain itu, dalam rangkaian diskusi lainnya, IBC turut menyoroti peran penting pengembangan energi hijau dan ekonomi sirkular dalam peta besar transisi energi global. William Sabandar, COO IBC, menekankan bahwa Indonesia dengan cadangan mineral kritis yang besar dan potensi ekonomi sirkular dapat menghadirkan solusi nyata untuk target iklim global.
“Melalui pemanfaatan inovasi dan teknologi, Indonesia bisa menjadi pusat solusi transisi energi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Kuncinya adalah mengmobilisasi modal yang tepat, mendukung kebijakan yang menguntungkan, serta menciptakan inovasi yang inklusif,” ujar Sabandar.
Langkah Ke Depan: Indonesia Economic Summit 2026
Puncak dari langkah strategis Indonesia dalam pasar karbon ini akan semakin terlihat pada Indonesia Economic Summit 2026, di mana visi Indonesia untuk menjadi pusat ekonomi hijau global akan semakin nyata. Forum tersebut akan menjadi ajang untuk mengukuhkan posisi Indonesia sebagai pemain utama dalam pasar karbon dunia.
Dengan keberlanjutan dan keterlibatan aktif dalam pasar karbon internasional, Indonesia menunjukkan komitmennya untuk mempercepat upaya mitigasi perubahan iklim, serta memperkuat daya saing nasional dalam ekonomi global yang semakin menekankan pada keberlanjutan dan tanggung jawab sosial. Ini adalah langkah besar bagi Indonesia untuk menjadi pemimpin dalam transformasi energi dan ekonomi hijau global.
Indonesia, dengan kelebihan sumber daya alam yang melimpah, juga melihat adanya peluang besar dalam pengembangan ekonomi hijau. Dengan menggunakan standar global yang semakin terintegrasi dalam pasar karbon, Indonesia berpotensi untuk menjadi price-maker di kawasan Asia. Hal ini sejalan dengan inisiatif yang dilakukan oleh IBC dalam upaya membangun infrastruktur yang lebih kuat bagi perdagangan karbon di dalam n


Komentar